Jakarta — Industri otomotif Indonesia tengah menghadapi perubahan menarik. Di saat penjualan mobil baru menurun tajam, pasar mobil bekas justru menunjukkan tren kebangkitan yang signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk membeli kendaraan bekas meningkat pesat selama kuartal ketiga 2025.
Penjualan Mobil Baru Turun 10,9 Persen
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan penjualan mobil baru secara retail dari Januari hingga September 2025 sebesar 10,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Total unit yang terjual hanya mencapai 585.917, jauh di bawah angka 657.448 unit pada periode yang sama tahun 2024.
Penurunan ini disebut sebagai akibat dari kombinasi beberapa faktor, seperti daya beli masyarakat yang melemah, kenaikan suku bunga kredit kendaraan, serta ketidakpastian ekonomi global yang membuat konsumen lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian besar.
“Situasi ekonomi yang menantang dan tren peralihan konsumen ke mobil bekas menyebabkan penjualan mobil baru tidak sekuat tahun lalu,” ujar Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi.
Efek Pembiayaan dan Inflasi
Banyak calon pembeli mengurungkan niat membeli mobil baru karena kenaikan suku bunga kredit kendaraan bermotor. Selain itu, harga mobil baru yang terus meningkat akibat biaya produksi dan nilai tukar rupiah yang melemah membuat konsumen mencari alternatif yang lebih ekonomis.
“Kalau dulu DP 20 persen terasa ringan, sekarang cicilan terasa berat karena bunga tinggi. Akhirnya kami memilih mobil bekas yang masih bagus,” kata Rafi, seorang pembeli di showroom mobil bekas kawasan Tangerang.
Pasar Mobil Bekas Justru Meningkat Tajam
Di sisi lain, platform jual beli kendaraan seperti Caroline.id dan OLX Autos mencatat lonjakan transaksi mobil bekas hingga 18 persen pada triwulan ketiga 2025. Mobil dengan harga di bawah Rp200 juta menjadi yang paling banyak dicari, terutama merek-merek populer seperti Toyota Avanza, Honda Brio, dan Suzuki Ertiga.
CEO Caroline.id, Agus Hartono, menyebut bahwa tren ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen. “Masyarakat kini lebih realistis. Mobil bekas berkualitas dengan harga terjangkau lebih menarik dibanding mobil baru yang mahal dan butuh DP besar,” ujarnya.
Segmen Mobil Bekas Berkualitas Jadi Favorit
Menariknya, permintaan tidak hanya datang dari kelas menengah ke bawah. Banyak konsumen kelas menengah ke atas kini mulai melirik mobil bekas bersertifikat atau certified used car karena kualitasnya terjamin dan harga lebih kompetitif.
Mobil-mobil berumur di bawah lima tahun dengan jarak tempuh rendah kini laris manis di pasaran. Bahkan beberapa diler menawarkan garansi mesin dan transmisi hingga satu tahun untuk menarik kepercayaan pelanggan.
Perubahan Gaya Hidup dan Pola Konsumen
Selain faktor ekonomi, perubahan gaya hidup masyarakat pascapandemi juga berpengaruh besar. Mobil kini tidak lagi dianggap sebagai simbol status, melainkan kebutuhan fungsional. Banyak konsumen memilih kendaraan praktis untuk keperluan harian, bukan lagi mengejar gengsi.
Selain itu, meningkatnya kesadaran terhadap nilai depresiasi mobil baru membuat konsumen berpikir dua kali sebelum membeli unit baru. Dalam tiga tahun pertama, mobil baru bisa kehilangan nilai hingga 25–30 persen. Sementara mobil bekas yang sudah stabil harganya dianggap lebih menguntungkan.
Peran Digitalisasi dalam Lonjakan Penjualan
Platform digital memainkan peran besar dalam memudahkan konsumen membeli mobil bekas. Situs seperti Caroline.id, OLX Autos, dan Mobil123 kini menawarkan proses transparan mulai dari pengecekan, simulasi kredit, hingga pengiriman unit ke rumah pembeli.
“Dulu banyak orang takut beli mobil bekas karena khawatir ditipu. Sekarang semua bisa dicek online, bahkan ada inspeksi gratis sebelum transaksi. Itu membuat pasar makin hidup,” kata Fadil Rahman, analis otomotif independen.
Merek Mobil Bekas Paling Diminati
Berdasarkan data agregat beberapa platform jual beli kendaraan, berikut merek yang paling diminati pada 2025:
- Toyota – khususnya Avanza, Innova, dan Agya.
- Honda – model Brio, Jazz, dan HR-V.
- Daihatsu – Sigra dan Terios.
- Mitsubishi – Xpander bekas masih jadi favorit.
- Suzuki – Ertiga dan XL7 mengalami kenaikan penjualan signifikan.
Mobil-mobil LCGC dan MPV tetap menjadi primadona karena efisiensi bahan bakar dan biaya perawatan yang rendah. Sementara itu, segmen SUV bekas juga mulai naik berkat tren gaya hidup “petualangan” dan kebutuhan mobil keluarga yang lebih lega.
Dampak Terhadap Industri Otomotif Nasional
Penurunan penjualan mobil baru ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan produsen. Mereka kini mulai menyesuaikan strategi dengan memperbanyak promo, memperkenalkan program trade-in, dan memperluas layanan purna jual agar bisa bersaing dengan pasar mobil bekas.
Beberapa merek besar bahkan berencana meluncurkan program resmi used car certified untuk menjaga ekosistem bisnis mereka tetap hidup. Langkah ini sudah dilakukan di negara lain, dan kini mulai diterapkan di Indonesia untuk menjaga loyalitas pelanggan.
Prediksi Pasar Otomotif ke Depan
Analis memperkirakan kondisi ini masih akan berlangsung hingga pertengahan 2026. Selama kondisi ekonomi belum stabil, pasar mobil bekas akan tetap mendominasi. Namun jika suku bunga menurun dan daya beli meningkat, pasar mobil baru bisa kembali pulih.
“Pasar otomotif kita sedang mencari keseimbangan baru. Mobil bekas kini bukan sekadar alternatif, tapi sudah jadi pilihan utama banyak orang,” ujar Fadil.
Tips Membeli Mobil Bekas Berkualitas
Bagi masyarakat yang tertarik membeli mobil bekas, para pakar otomotif menyarankan untuk memperhatikan hal-hal berikut:
- Pastikan membeli di tempat terpercaya atau platform bersertifikat.
- Periksa riwayat servis dan kondisi mesin sebelum transaksi.
- Lakukan test drive untuk memastikan performa kendaraan.
- Waspadai harga terlalu murah yang tidak masuk akal.
Dengan kehati-hatian dan informasi yang cukup, membeli mobil bekas bisa menjadi solusi cerdas dan ekonomis, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
Fenomena naiknya penjualan mobil bekas di tengah turunnya pasar mobil baru menandakan pergeseran tren otomotif di Indonesia. Konsumen kini semakin cerdas dan realistis dalam memilih kendaraan.