Jakarta – Tren mobil listrik bekas mulai tumbuh di pasar otomotif Indonesia. Salah satu model yang menarik perhatian adalah BYD M6, MPV listrik asal Tiongkok yang baru beberapa tahun lalu diperkenalkan secara resmi. Kini, harga bekasnya di pasaran mulai berada di kisaran Rp200–250 juta.
Padahal, saat pertama kali diluncurkan, harga baru BYD M6 berada di kisaran Rp380 juta hingga Rp420 juta tergantung varian. Artinya, terjadi penurunan nilai cukup signifikan dalam waktu singkat — hampir 40 persen dari harga baru.
MPV Listrik yang Mulai Populer
BYD M6 dikenal sebagai salah satu pionir mobil listrik di segmen MPV di Indonesia. Mobil ini menjadi alternatif bagi konsumen yang mencari kendaraan keluarga ramah lingkungan dengan kenyamanan tinggi.
BYD menawarkan M6 dalam tiga varian utama: Standard, Superior, dan Supreme Captain. Ketiganya mengusung desain futuristik dengan sistem baterai Blade Battery berkapasitas tinggi dan jarak tempuh mencapai lebih dari 400 km per pengisian penuh.
Interior M6 juga terbilang mewah untuk kelasnya, dengan layar sentuh besar, sistem pendingin digital, serta konfigurasi kursi captain seat pada varian tertinggi.
Harga Bekas Mulai Rp200 Jutaan
Menurut data dari sejumlah bursa mobil daring, unit BYD M6 bekas tahun produksi 2023 kini ditawarkan dengan harga mulai dari Rp200 juta hingga Rp260 juta, tergantung kondisi dan varian. Beberapa dealer menyebut harga bisa lebih rendah untuk unit dengan jarak tempuh tinggi atau bekas armada perusahaan.
“Pasar mobil listrik bekas sedang tumbuh cepat, tapi nilai jual kembali belum stabil karena infrastruktur pengisian daya dan permintaan yang masih terbatas,” kata Reno Putra, pengamat otomotif dari Jakarta.
Ia menambahkan, penurunan harga mobil listrik bekas seperti BYD M6 juga dipengaruhi faktor perkembangan teknologi baterai baru yang terus bermunculan setiap tahun.
Perbandingan dengan MPV Listrik Lain
BYD M6 bersaing langsung dengan sejumlah MPV listrik lain seperti Wuling Air EV, Hyundai Stargazer EV, dan Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid. Namun, M6 menawarkan kapasitas lebih besar dengan tujuh penumpang penuh, menjadikannya pilihan ideal untuk keluarga besar.
Dibandingkan dengan model sekelasnya, BYD M6 bekas dinilai paling terjangkau. Wuling Air EV bekas misalnya, masih bertahan di kisaran Rp250–280 juta untuk versi Long Range. Sementara Stargazer EV baru dijual di atas Rp450 juta.
Biaya Perawatan dan Daya Tahan
Menurut pengguna BYD M6, biaya perawatan mobil listrik jauh lebih hemat dibanding mobil bensin. Tidak ada pergantian oli mesin, busi, atau filter bahan bakar. Namun, perawatan sistem pendingin baterai dan pengecekan sistem kelistrikan tetap menjadi hal penting.
“Kalau baterainya masih bagus, M6 bisa jadi pilihan cerdas. Tapi calon pembeli harus memastikan garansi baterai masih aktif, karena penggantian modul bisa cukup mahal,” jelas Arif Hidayat, teknisi mobil listrik independen di Bekasi.
Tren Pasar Mobil Listrik Bekas
Penjualan mobil listrik bekas di Indonesia terus meningkat seiring penurunan harga kendaraan baru dan meningkatnya ketersediaan stasiun pengisian daya publik. Beberapa dealer bahkan mulai membuka showroom khusus mobil listrik bekas.
“Dalam dua tahun terakhir, permintaan EV bekas naik hampir 70 persen, terutama di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan,” ungkap Indra Gunawan, pengelola showroom mobil bekas EV di Jakarta Selatan.
Namun, ia juga menilai bahwa masih banyak konsumen yang berhati-hati membeli EV bekas karena belum paham tentang sistem baterai dan teknologi kelistrikannya.
Kesimpulan
Dengan harga baru yang masih di kisaran Rp380 juta dan harga bekas mulai Rp200 juta, BYD M6 menjadi opsi menarik bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik dengan biaya lebih efisien. Namun, seperti pembelian mobil bekas pada umumnya, pengecekan menyeluruh tetap menjadi hal penting sebelum transaksi dilakukan.
Pasar kendaraan listrik bekas kini mulai terbentuk, dan BYD M6 menjadi salah satu indikator bagaimana industri otomotif Indonesia beradaptasi menuju era mobilitas hijau.