Jakarta – Astra Honda Motor (AHM) menyatakan bahwa penetrasi sepeda motor listrik di Indonesia belum memberikan dampak signifikan terhadap pasar motor berbahan bakar bensin. Hingga saat ini, permintaan terhadap motor konvensional masih mendominasi karena karakter konsumen yang cenderung mempertimbangkan faktor harga, daya jangkau, dan kemudahan perawatan.
Penetrasi Motor Listrik Masih Terbatas
Menurut Ahmad Muhibbuddin, General Manager Corporate Communication AHM, pasar motor listrik di Indonesia belum berkembang pesat seperti di beberapa negara Asia lainnya, termasuk Vietnam dan Thailand. Meski tren kendaraan listrik meningkat, penjualan motor listrik masih sangat kecil dibandingkan dengan motor bensin.
“Kami melihat karakter konsumen di Indonesia masih berbeda. Mayoritas pengguna lebih memperhatikan efisiensi, jarak tempuh, dan infrastruktur pengisian daya. Karena itu, saat ini motor bensin masih menjadi pilihan utama,” ujar Ahmad dalam keterangannya di Jakarta, Senin (13/10).
Ia menambahkan bahwa AHM tidak merasa perlu khawatir terhadap penetrasi motor listrik dalam waktu dekat. Pasar motor konvensional dinilai masih sangat luas, terutama di wilayah luar Jawa di mana ketersediaan stasiun pengisian listrik masih minim.
Honda Fokus pada Dua Arah Strategi
Meski pasar motor bensin tetap dominan, Honda tetap mengantisipasi perubahan tren global menuju elektrifikasi. AHM kini menjalankan dua strategi utama: memperkuat lini produk motor bensin efisien dan mempersiapkan portofolio kendaraan listrik untuk masa depan.
“Kami tidak menutup mata terhadap perkembangan teknologi. Honda berkomitmen mendukung transisi menuju energi bersih, tapi tentu harus disesuaikan dengan kesiapan ekosistem di Indonesia,” jelas Ahmad.
Honda juga telah memperkenalkan beberapa model motor listrik untuk uji pasar, seperti Honda EM1 e: yang dipasarkan secara terbatas di sejumlah kota besar. Motor ini menjadi pionir Honda dalam segmen listrik ringan yang ditujukan untuk penggunaan harian jarak dekat.
Infrastruktur Masih Jadi Tantangan
Meski berbagai pabrikan mulai memperkenalkan kendaraan listrik, ketersediaan infrastruktur pengisian daya masih menjadi hambatan utama di Indonesia. Jumlah stasiun battery swap dan charging station belum merata, terutama di luar wilayah perkotaan besar.
“Konsumen di Indonesia cenderung memikirkan kemudahan pengisian bahan bakar. Kalau dengan listrik harus menunggu lama atau mencari lokasi pengisian, itu menjadi pertimbangan besar,” tambah Ahmad.
Selain infrastruktur, harga motor listrik juga masih relatif tinggi dibandingkan motor bensin konvensional. Kendati pemerintah telah memberikan insentif, komponen seperti baterai masih menjadi penyumbang biaya terbesar dalam produksi kendaraan listrik.
Pasar Motor Bensin Tetap Kuat
Data AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia) menunjukkan bahwa hingga kuartal ketiga 2025, penjualan motor di Indonesia masih didominasi oleh segmen motor bensin. Dari sekitar 5 juta unit motor yang terjual, lebih dari 98 persen masih menggunakan mesin konvensional.
AHM menilai fakta tersebut memperkuat bahwa motor bensin belum akan tergantikan dalam waktu dekat. “Selama infrastruktur dan kebiasaan konsumen belum berubah signifikan, kami percaya motor bensin tetap relevan,” kata Ahmad.
Persiapan Menuju Transisi Energi
Meskipun tidak khawatir, Honda tetap aktif mendukung program pemerintah menuju transisi energi bersih. Pabrikan ini bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan PLN untuk menguji ekosistem kendaraan listrik, termasuk sistem battery swap yang dapat mempercepat adopsi di masa mendatang.
“Kami mendukung penuh kebijakan elektrifikasi nasional. Namun, kami ingin memastikan bahwa teknologi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia,” tegas Ahmad.
Honda Tetap Pimpin Pasar Nasional
Honda saat ini masih menjadi pemimpin pasar roda dua di Indonesia dengan pangsa lebih dari 70 persen. Model seperti BeAT, Vario, dan PCX terus menjadi tulang punggung penjualan. AHM percaya bahwa strategi kombinasi antara efisiensi bensin dan pengembangan motor listrik akan menjaga posisi dominannya di industri otomotif nasional.
Kesimpulan
Penetrasi motor listrik di Indonesia memang menunjukkan tren pertumbuhan, namun belum cukup untuk menggeser dominasi motor bensin dalam waktu dekat. Bagi Honda, keseimbangan antara inovasi dan kesiapan pasar menjadi kunci menghadapi era transisi energi ini.
Dengan langkah bertahap, Astra Honda Motor optimistis bisa tetap relevan dan memimpin perubahan, sambil memastikan setiap konsumen memiliki pilihan sesuai kebutuhan — baik motor listrik maupun bensin.